19 Oktober 2009

BINTANG FARAH

Farah termenung menatap langit lagi, ya sekali lagi farah menatap bintangnya, dia merasa memang itulah bintangnya, bintang yang dia banggakan yang akan membuktikan ke dunia bahwa dia bisa, dia benar, dan dia dapat meraih bintang-bintangnya. dia akan meraihnya.... Pasti dan dia yakin itu!

* * *
“hi girl, lagi ngapain nih, ngelamun terus” dena, sobat kentalnya menarik kursi dan duduk di depannya sambil menatap sobat kentalnya seksama.

“hHHh…” farah melengos

“whoi, loe ke kafe tuh, mau makan apa mau ngelamun, kalo mau ngelamun ya gak usah pesen dong, lihat tuh makanan loe sampai habis ama lalat gak loe sentuh sama sekali”

“udah deh, jangan bikin gw tambah bete dengerin omelan loe, eh gimana kemaren rencana loe ma anak-anak berhasil gak?”

“ya iyalah berarti acara perpisahan kita besok bakal dihadiri Sheila on 7, wah sibuk and capek banget nih, keliling kelas buat mastiin mereka udah siap belum buat pementasan besok, loe sendiri kenapa sih menolak jadi panitia waktu andre nunjuk loe jadi sie acara”

“bokap gak mau gw capek, lagian loe tahu sendiri kan kerjaan jadi sie acara bakal menyita wakyu gw sampai malam, ya otomatis gw gak bakal dizinin lah, lo mau acara gagal gara-gara panitia gak optimal kerja”

“gw masih heran ya ama pemikiran bokap loe, bentar lagi jadi mahasiswi, loe masih ja gak dibolehin inilah- itulah, emang loe sendiri udah pernah bilang gak sih ma bokap loe” dena langsung memasukan kentang goreng ke mulutnya

“udah berkali-kali, tapi percuma, udah deh, gak perlu dibahas, bikin gw bete aja, gw cabut dulu ya, mau hunting info universitas nih! Good luck buat besok ya, bye!” farah berlalu pergi, dena hanya bingung menatap sobatnya yang gak tahu sopan santun itu, udah ditemenin, ditinggal lagi, heran deh !

* * *

Farah meneliti sekali lagi info-info universitas di Surabaya, pasti susah deh SPMB nya, farah mengeluh, dia kan gak pernah bisa menyelesaikan soal matematika dengan baik, susah juga, lagian bokap nyuruhnya di kedokteran sih, coba kalau farah boleh di jurusan ilmu sospol, pasti farah yakin bisa masuk perguruan tinggi dengan gampang, udah gitu harus di surabaya lagi. Farah masih ingat perkataan papanya seminggu lalu waktu dia meminta pendapat papanya tentang universitas mana yang harus dia pilih.

“pokoknya ya sayang, papa gak setuju kamu kuliah di jogja, semarang ataupun tempat yang lainnya, papa hanya mau mengizinkan kamu di Surabaya, tidak ada yang lainnya”

Farah hanya bisa mengeluh dalam hati dengan keputusan papanya, mau gimana lagi, papa selalu seperti itu, selalu membatasi dan menentukan semua yang dia jalani dari kecil, dan masalahnya selalu itu yang terbaik, jadi susah menyangkal kalau seperti itu, farah hanya bisa menuruti semua keinginan papanya.

Selembar data keluar tentang universitas UNAIR, dia sudah menentukan, sepertinya universitas ini yang akan dipilihnya.

Setelah membayar di kasir, farah langsung keluar dari warnet langganannya, menuju sepeda motor mio pink-nya, hari sudah sore, dia harus cepat-cepat sampai ke rumah kalau tidak farah bakal diomelin mamanya lagi sampai pagi.

* * *

“faraaaaaaaaaaaaaaaaaaaah” teriak mamanya dari luar kamar,
Farah terburu-buru melocat dari tempat tidur dan menghampiri mamanya,

“ada apa sih ma, teriak-teriak sampai segitunya” farah keluar dengan cemberut, kebiasaan nih, bakal kena omelan lagi, apa lagi sih salahnya kali ini, moga aja gak berat-berat amat, kalau egak, bisa-bisa berbusa lagi kupingnya.

“lihat ini bajumu, kok bisa sobek-sobek gini, kamu ini cewek apa cowok, kalu mau kemana-mana itu hati-hati, jangan asal lari, asal loncat, asal nerobos pager, pusing mama punya anak cewek segede ini belum bisa mandiri …. Bla bla bla” omelan mama gak berhenti sampai setengah jam,dan berhenti setelah melihat mulut farah sudah maju 1 cm, mama menghela nafas dan menatap wajah putri kesayangannya satu-satunya itu dengan penuh sayang.

“farah anak mama yang paling cantik, mama bukan bermaksud buat marah, tapi kamu harusnya ngerti, semua ini sudah harus jadi kewajiban dan kesadaranmu sendiri, okey saying” ucap mama sambil mengelus rambut farah, setidaknya sudah mengingatkan, pikir mama, farah membatin, hufffft…., lagi-lagi salah, oh tuhan, kapan aku berhenti melakukan kesalahan !!!, teriaknya dalam hati.

* * *

“kriiiiiiiiiiiinggggggg” jam beker farah berbunyi keras, farah terbangun kaget,
Dilihatnya jam menunjukkan pukul 7, terlambat untuk menjelaskan, yang jelas dia terlambat, dan dia harus bangun secepatnya.

10 menit persiapan kilat, mandi, ganti baju, masukin semua keperluan untuk test ke tas, pake sepatu tanpa sarapan dan langsung berangkat ke kampus UNAIR untuk mengikuti ujian masuk gelombang pertama,semoga saja dia masih diperbolehkan masuk, pikir farah dalam hati, kalau seandainya tidak boleh, apa yang harus dikatakan ke mama dan papa, bakal kena omelan lagi ini, huffffttt … ini semua juga gara-gara keteledoran dia tadi malam, saking semangatnya belajar demi ingin menunjukkan keberhasilan dia untuk kedua orangtuanya, sampai dia lupamerestart kembali jam bekernya, mama dan papa memang sedang tidak ada dirumah, ada urusan dimalang, biasanya mamlah yang selalu ngingetin farah untuk tidak tidur malam, dan yang biasanya bangunin farah, huffft …. kali ini bebar-benar apes deh.

Farah berjlan cepat setengah berlari setelah memarkir motornya, untung dia sudah tahu dimana kelas dia mengikuti test, lorong sudah mulai sepi, mungkin para peserta sudah dipersilahkan masuk untuk siap-siap mengikuti ujian test masuk, farah melihat jam nya sekali lagi, jam 7.25, ya ampun apa nanti dia diijinkan masuk, dia berjalan lebih cepat, lebih gesit, bahkal lari, diujung lorong, akhirnya, dia sampai juga.

“selamat pagi pak” dilihatnya laki-laki pengawas ujian di kelasnya menoleh dan lansung memicingkan mata, semua lembar jawaban sudah dibagikan ke seluruh peserta, farah berdo’a dalam hati, semoga kali ini dia mendapatkan keberuntungannya.

“masuk !!!” ucap pengawas laki-laki itu sambil mengisyaratkan untuk mengambil lembar jawaban di bangku depannya.
Huffffttt …, kali ini hatinya yang sudah 1 jam yang lalu serasa mau dibakar, sekarang langsung dingin disiram es yang sejuk, akhirnya, semua bisa terselesaikan, farah menghampiri bangku pengawas, mengambil kertas jawaban dan memberikan sebuah senyuman termanis untuk malaikat penolongnya yang sedang duduk dibelakang bangku pengawas sebelum menuju tempat duduknya.

* * *

Kaki farah terasa kaku untuk melangkah menghampiri kedua orangtuanya yang sedang duduk di ruang tengah menonton tivi, duh, bagaimana dia harus menjelaskan kalau setelah 3 kali ujian test farah tidak mampu menembus fakultas kedokteran UNAIR, padahal farah sudah berusaha semaksimal mungkin belajar, tapi apa mau dikata, dia hanya bisa tembus ke pilihan kedua di imu politik, tapi mau gak mau dia harus membicarakannya sekarang.

“ma, pa, farah mau bicara sebentar” farah menghela nafas sebentar, mencoba mencari kekuatan dan kata-kata bagaimana menjelaskan bahwa dia sudah berusaha semampunya untuk membuat orangtuanya bangga dengan keberhasilannya, tapi kali ini dia tidak berhasil. Mamanya menyuruhnya duduk diantara mereka berdua.

“ada apa sayang ?”
Duh, sekali lagi farah menghela nafas panjang,

“ma, pa, farah belum berhasil menembus kedokteran UNAIR, farah cuma bisa menembus di pilihan kedua, di ilmu politik, farah minta maaf, farah sudah berusaha belajar giat agar bisa membuat bangga mama dan papa” air mata farah mengalir tak tertahankan, memeluk mamanya.

“loh, kok nangis farah” ucap mama lembut memeluk anaknya dengan hangat sambil tersenyum menatap papa yang mengangguk pelan, tangan papa memegang bahu farah dengan lembut.

“farah sayang, sini lihat papa, mama dan papa tidak pernah menyalahkanmu untuk masalah ini, kami sudah membicarakan sebelumnya, kami tahu farah lebih menyukai ilmu politik daripada kedokteran, mungkin itu jawaban dari harapan farah selama ini, jadi papa dan mama akan tetap bangga mempunyai seorang anak seperti farah yang mempunyai cita-cita, asalkan farah mau belajar giat dan serius mengikuti semua program studi ketika kuliah nanti itu sudah cukup buat mama dan papa” papa menelus rambut farah sambil tertawa menggoda

“anak papa yang segede ini masa cengeng banget sih, hehehe …, gak malu sama temen-temennya, baru ditinggal bentar ke malang saja sudah serabutan semuanya, apalagi harus jauh dari mama dan papa untuk jangka 4 tahun kamu kuliah, hayooo …” papa menggelitik farah yang manyun karena malu diisengi papanya, tapi dia bahagia, karena papa dan mamanya selalu tahu tentang dia, bahkan lebih tahu dengan apa yangterbaik buat dia, terima kasih ma, terima kasih pa, aku sayang kalian berdua, bisik farah dalam hati.

* * *

“kriiiiiiiiiiiiiiiinnngggggggggggg” jam beker farah berbunyi kencang. farah terbangun sambil masih mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk.

“Hoaaaammm … , jam berapa nih !” lirihnya sambil mengambil jam beker tweety yang terletak di meja samping tempat tidurnya, dan mata farah baru terbelalak terbuka lebar ketika melihat jarum pendek jam nya menunjuk angka 8,

“hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa …..” teriaknya berjingkat dari tempat tidur, mamnya muncul di pintu kamarnya dengan nada heran dan khawatir.

“ada apa sayang ?”
“hehehe …., farah telat bangun lagi ma” dengan cengiran khasnya, farah menjawab mamanya sambil mengggruk kepalanya yang tidak gatal.

“kebiasaan !” ucap mamanya sambil keluar pergi.hufffft, lagi-lagi bakal kena hukum lagi deh, masa ospek memang masa penghabisan untuk maba yang terlibat pelanggaran seperti farah ini.

Secepat kilat, bahkan secepat meteor deh farah bersiap-siap untuk pergi kekampus, hari iniospek terakhir, jadi mungkin peraturan sudah sedikit longgar, semoga saja, do’anya dalam hati.

“farah berangkat dulu ma, pa” farah mencium pipi kedua orangtuanya dan bergegas pergi, distaternya motornya dengan penuh kegembiraan, perjalanan dari rumahnya kekampusnya menjadi begitu indah jika dia tahu bahwa dia sungguh beruntung bisa mempunyai keluarga yang menyayanginya dia sepenuh hati, dia pun masih punya cita-cita yang harud dia raih. hari ini, mendapatkan hukuman apa tidak, itu bukan hal yang penting buat farah, asalkan selanjutnya, dia akan terus berusaha untuk belajar yang rajin, untuk menggapai cita-citanya yang sudah lama dia impikan, menggapai bintangnya, bintang yang setiap malam dia pandangi dari jendela kamar tidurnya, bintang farah yang indah dan tinggi.

***

1 komentar:

  1. hhmmmm...ortu emang orang yg paling bisa dijadikan pedoman... (>_<)

    Kunjungi blog saya

    BalasHapus